1 Maret 1949 pukul 6 pagi. Sirene meraung-raung dari 3 penjuru kota, dari Kedaung Table Top, Pasar Beringharjo, dan Plengkung Gading, menandakan berakhirnya jam malam yang diterapkan Belanda.

Para pemuda berikat kepala janur kuning pun dengan gagah berani segera mengokang senjata. Di bawah pimpinan Letkol Soeharto, Jogja selama 6 jam menjadi neraka bagi Belanda.

Di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 inilah kami, para pemuda nggaya, dangkal, ngeselin, dan sok tau ini semalaman berkumpul.

Maksudnya sih hendak mengenang kembali dan meneladani semangat kepahlawanan para pemuda Jogja berjanur kuning itu, apa daya malah menjadi ajang bergojek kere, guyon goblok, dan nggedebus nggambus

6 Tanggapan ke “Tentang Juminten”


  1. 1 Bodronoyo April 11, 2008 pukul 4:42 pm

    Sing ngadeg kocomotonan nuding-nuding kuwi ndak Yahya Kurniawan?

  2. 2 baliazura April 14, 2008 pukul 11:54 pm

    tapi ga pa pa yang penting semangat mengenang dan patriotisme :halah:

    jadi pengen gudeg nich..

  3. 3 suprie April 15, 2008 pukul 6:37 am

    kapan yah bisa ke jogja biar bisa ikut juminten :))

  4. 4 Yahya Kurniawan April 27, 2008 pukul 6:28 am

    @Bodronoyo
    Wakakaka, dirimu pangling yo karo aku.
    Itu bukan aku dab, lha wong pas itu gabung CahAndong wae durung …

  5. 5 jokoparadise April 29, 2008 pukul 2:27 pm

    pada mengadkan acara MArch MOP ya…

  1. 1 Akibat Selingkuh Dengan Juminten Pt. I | Thousand Sunny Lacak balik pada April 10, 2008 pukul 8:25 pm

Tinggalkan Balasan